IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN MATEMATI KA DENGAN MENGGUNAKAN METODE CONCEPTUAL UNDERSTANDING PROCEDURES (CPUs) DAN PEER LESSON UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN PENALARAN PADA SISWA

Standard

A. Latar Belakang Masalah

Keberhasilan proses belajar mengajar ditentukan oleh motivasi belajar siswa. Guru matematika diharapkan dapat memberikan dorongan belajar pada siswa, sehingga siswa merasa tertarik dan mudah memahami materi yang diberikan. Memotivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa, karena fungsinya yang mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar (Hamalik, 2004: 156). Dengan adanya motivasi seseorang akan terdorong untuk melakukan sesuatu yang diminta. Semakin besar minat belajar terhadap matematika semakin besar pula perhatian terhadap materi pelajaran yang diberikan. Sehingga akan memperbesar hasrat dan kemauan untuk mengenal apa yang dipelajari dan akan menimbulkan sikap kreatif pada diri siswa.

Dalam proses belajar mengajar, penalaran juga sangat mendorong keberhasilan pembelajaran karena penalaran merupakan proses berpikir yang tertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dari pengertian. Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proporsisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proporsisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proporsisi baru yang sebelumnya tidak diketahui proses inilah yang disebut penalaran.

Aspek-aspek pembelajaran matematika mencakup proses belajar mengajar dan pemikiran yang kreatif. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, sering dijumpai berbagai permasalahan. Kesalahan yang dilakukan siswa tidak hanya bersumber pada kemampuan siswa yang kurang, tetapi ada faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan siswa dalam belajar matematika, salah satu diantaranya adalah metode pembelajaran yang dipilih guru sebagai pengajar.

Pada saat ini hasil belajar matematika yang dicapai siswa masih banyak yang berada di bawah standar yang ditetapkan. Permasalahan lain yang masih sering muncul adalah penggunaan metode  pembelajaran oleh guru yang kurang tepat. Guru kurang bervariasi dalam mengajarkan pelajaran matematika disekolah. Bahkan tidak jarang dijumpai proses pembelajaran matematika yang hanya berpusat pada guru.

Pada umumnya, metode pembelajaran yang dikembangkan guru matematika dalam kegiatan belajar mengajar adalah metode pembelajaran konvensional yang lebih banyak mengandalkan ceramah. Dimana guru lebih memfokuskan diri pada upaya pemindahan pengetahuan ke dalam diri siswa tanpa memperhatikan bahwa ketika siswa memasuki kelas, siswa mempunyai bekal kemampuan dan pengetahuan yang tidak sama. Siswa hanya ditempatkan sebagai obyek sehingga siswa menjadi pasif dan tenggelam ke dalam kondisi belajar yang kurang merangsang aktivitas belajar yang kurang optimal. Proses pembelajaran yang berpusat pada guru tersebut, dengan guru sebagai penyampai materi atau penceramah dan siswa sebagai pendengar mempunyai kelemahan yaitu siswa cenderung ramai, mengantuk, tidak ada siswa yang mau bertanya, dan siswa tidak mampu menjawab dengan sempurna pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dengan kondisi yang seperti ini maka banyak waktu yang terbuang sia-sia, sedangkan materi yang ingin disampaikan guru tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Untuk mengatasi masalah yang telah dikemukakan di atas salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran CUPs. Metode CUPs  atau yang dikenal dengan langkah-langkah pemahaman konsep, adalah suatu proses pembelajaran dimana siswa diajarkan untuk memahami konsep tentang materi yang dipelajari. Dengan metode ini siswa diharapkan dapat membedakan antara konsep dan bukan konsep dari materi yang dipelajari. Dengan memahami konsep-konsep dari materi yang diajarkan, siswa diharapkan lebih mudah dalam menyelesaikan soal. Dengan pemahaman konsep yang benar dan  baik akan membuat siswa mudah mengingat materi yang dipelajari tanpa harus menghafal rumus.

Selain dengan metode CUPs, untuk mengatasi masalah yang telah  dikemukakan diatas adalah dengan menerapkan metode pembelajaran aktif. Salah satu jenis pembelajaran aktif adalah Peer Lesson (Pelajaran Teman Sebaya). Peer Lesson adalah sebuah strategi yang mengembangkan Peer Teaching dalam kelas yang menempatkan seluruh tanggung jawab untuk mengajar pada peserta didik sebagai anggota kelas (Mel Silberman, 2007: 173). Banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (Peer Teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru (Anita Lie, 2007: 12).

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, ulis mengadakan penelitian tentang penerapan metode pembelajaran CUPs dan Peer Lesson ditinjau dari motivasi dan penalaran belajar matematika siswa.


Read More…>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s